Templates by BIGtheme NET

Home / The Online Choice News / Kisah Yuniati, Buruh Cuci yang Sukses Antar Anak Raih Gelar Doktor di Jepang
foto :detik

Kisah Yuniati, Buruh Cuci yang Sukses Antar Anak Raih Gelar Doktor di Jepang

26 October 2015 | 11:42:41pm
Share Button

Bantul,koranbabel — Meski hanya sebagai buruh cuci pakaian dan menjadi menjadi pengasuh anak-anak di tetangga sekitarnya, Yuniati (50) berhasil mengantarkan anak sulung menyelesaikan jenjang pendidikan S3. Berkat kegigihan dan kerja keras membimbing anaknya hingga memperoleh gelar doktor dari universitas di Jepang.

Kegigihan dalam mendidik anak-anaknya itu patut menjadi contoh tetangga sekitarnya. Dia juga berhasil membuktikan bila anak miskin atau tidak mampu seperti keluarganya itu ternyata bisa meraih cita-cita tinggi dan menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar doktor.

Yuniati adalah warga Dusun Ketandan Kulon, Desa Girirejo Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Pekerjaan sehari-harinya adalah buruh cuci pakaian dan menjadi pengasuh anak-anak tetangganya. Suaminya, Febdi Nuryanto juga bekerja sebagai buruh serabutan.

Anak sulungnya, Satya Candra Wibawa Sakti (29) berhasil memperoleh gelar doktor bidang environmental/lingkungan dari Universitas Hokaido Jepang. Dia juga memperoleh gelar doktor termuda dalam usia kurang dari 30 tahun.

“Satya sejak SMA hingga menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melanjutkan S2 di UGM dan S3 di Jepang selalu mendapat beasiswa dari pemerintah,” ungkap Yuniati saat menerima bantuan dari artis Paramitha Rusady di rumahnya Dusun Ketandan Kulon, Girirejo, Imogiri, Bantul, Senin (26/10/2015) sore.

Dia mengaku selama mendidik dua anaknya yakni Satya dan Okta untuk terus gigih dalam belajar. Dia juga selalu menemani dan mengawasi anak-anaknya saat belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Rumah yang ditempati sampai sekarang, dulu juga roboh terkena gempa bumi yang melanda wilayah Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Sisa-sisa bekas tembok reruntuhan rumah akibat gempa juga masih tampak. Bangunan tembok diganti dengan kayu triplek dan genting rumah diganti dengan asbes.

“Saat gempa, rumah ini juga roboh. Bantuan gempa sebagian kami gunakan untuk biaya sekolah Satya,” ungkapnya.

Sementara itu Satya yang turut mendampingi ibunya saat menerima bantuan mengungkapkan keberhasilan dirinya meraih cita-cita tinggi hingga menyelesaikan pendidikan S3 di Jepang itu hendaknya bisa memberikan semangat kepada orang lain. Dia berhasil membuktikan kerja kerasnya mampu mengangkat derajat keluarganya. Adiknya Okta yang berhasil menyelesaikan sekolah perawat.

“Ini bisa menyemangati bahwa pendidilkan tinggi itu tidak hanya bagi orang mampu saja. Namun orang miskin seperti keluarganya juga bisa, asal mau bekerja keras terutama dalam belajar dan mencari bea siswa,” kata Satya.

Satya mengaku selama belajar sejak SD hingga SMA terus dikontrol oleh ibunya. Ibunya sering menemaninya saat belajar di rumah.

“Benar-benar menemani, duduk di samping saya, mengecek ada tidak PR hingga mengerjakan PR,” katanya.

Menurut Satya setelah selesai menempuh pendidikan S3, dia akan mengabdi sebagai dosen di almamaternya di UNY. Saat ini masih dalam proses di Kemenristek Dikti.

“Saya akan mengajar di UNY dan saya mendapat bea siswa dari Kemenristek dikti,” katanya.

Artis Paramitha Rusady saat memberikan bantuan tali asih juga mengungkapkan kegigihan Yuniati ini hendaknya bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi ibu-ibu di Indonesia terutama dalam meraih cita-cita anaknya.

“Usaha yang dilakukan keluarga Ibu Yuniati bersama suaminya dalam mendidik anak Satya dan adiknya Okta bisa menjadi contoh kaum ibu lainnya. Ini menunjukkan dia gigih dalam mendidik anak,” ungkap Mitha panggilan akrabnya itu.
(dtk)

Comments

comments

About koranbabel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*